Khutbah Idul Fithri 1446 H
Berpikir, Berucap dan Berbuat seperti Para Sahabat
Pemateri: KH. Imtihan Syafii
(Pengasuh Pesantren Daarul Qudduus, Magetan)
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلهِ، الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعْيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوصِيكُمْ وَإيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا [النساء: 1]
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران: 102]
يَا أَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيْدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا [الأحزاب:70 – 71]
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fithri yang berbahagia,
Setelah sebulan penuh kita ditarbiyah oleh Allah di madrasah Ramadhan; kita dididik dengan shiyam, qiyam, dan tilawatil quran, dan zakat fithri pun sudah kita tunaikan, kini saatnya kita bersyukur kepada Allah. Dari hati kita bertakbir, bertasbih, bertahmid, dan bertahlil.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَر
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Marilah kita bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benar kesyukuran. Kesyukuran yang meliputi syukur hati, syukur lisan, dan syukur anggota badan. Dengan itu, semoga Allah menambah semua yang telah Dia anugerahkan kepada kita sebagaimana dijanjikan-Nya.
Selanjutnya, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah ruah kepada manusia terbaik, sang teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam; juga kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikut setia beliau hingga akhir zaman.
Selanjutnya saya berwasiat untuk diri saya pribadi dan jamaah sekalian, marilah selalu kita tingkatkan takwa dan iman kita kepada Allah; agar kelak kita memiliki harapan, dikumpulkan bersama dengan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Fithri yang dicintai Allah,
Pada hari yang mulia ini, mari kita mengingat hal yang paling mendasar dari keislaman kita. Hal yang merupakan pilar dan pondasi keimanan kita.
Dua kalimat syahadat.
Kita telah mengucapkannya. Maknanya kita telah menyatakan, kita telah bersumpah, kita telah berjanji: bahwa kita hanya akan beribadah kepada Allah dan bahwa cara ibadah kita kepada Allah, kita kembalikan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Para sahabat dulu, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, terjadi perubahan pada diri mereka. Pikiran mereka, ucapan mereka, dan perbuatan mereka. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka ucapkan, dan apa yang mereka lakukan, benar-benar berubah. Benar-benar berbeda dari yang dipikirkan, yang diucapkan, dan yang dilakukan oleh masyarakat Jahiliyah di sekitar mereka.
Baca juga: Tadabbur Makna Dua Kalimat Syahadat
Maka mestinya, setelah kita mengucapkan kalimat yang sama dengan yang telah para sahabat ucapkan; kita pun memiliki pikiran, ucapan, dan perbuatan yang sama atau senyawa dengan pikiran, ucapan, dan perbuatan mereka. Jika belum, mari mengupayakannya.
Sesungguhnya, generasi sesudah para sahabat, yakni para tabi’in, telah mengupayakannya. Mereka benar-benar paham, bahwa meniti jalan mereka dengan seksama adalah kunci dan satu-satunya cara masuk Surga sekaligus terhindar dari neraka.
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 115,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah mendapatkan penjelasan hidayah dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, niscaya Kami leluasakan ia dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam. Sesungguhnya neraka Jahanam itu adalah tempat kembali yang amat buruk.”
Di ayat ini Allah menyebut dua perbuatan buruk dan dua balasan untuknya.
Pertama, menyelisihi Rasul dan kedua, mengikuti selain jalan orang yang beriman. Balasannya: dibalas dengan dibiarkan dalam kesesatan dan kelak dimasukkan ke dalam neraka Jahanam.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Fithri arsyadakumullah,
Orang beriman yang dimaksud oleh ayat di atas adalah para sabahat. Mengapa demikian? Sebab mereka adalah generasi pertama yang beriman kepada kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam rangka berpegangan kepada ayat ini, generasi kedua: yakni para tabi’in, akan menjaga diri untuk senantiasa mengikuti mereka. Sebab jika tidak para tabi’in akan terancam dengan kesesatan dan siksa neraka.
Generasi ketiga, yakni tabi’ut tabi’in memiliki sikap yang sama dengan generasi kedua. Selain tidak berani menyelisihi Rasulullah, mereka pun tidak berani menempuh selain jalan orang-orang yang beriman. Buat mereka, orang-orang yang beriman itu adalah generasi pertama dan genari kedua. Para sahabat dan para tabi’in.
Dan begitulah bagaiman pikiran, ucapan, dan amalan Islam itu terjaga dan terpelihara dari generasi ke generasi.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Dalam menjalani kehidupan, setiap generasi menghadapi problemnya masing-masing. Di samping problem-problem yang sudah pernah dihadapi dan dijawab oleh generasi sebelum mereka, ada banyak problem yang baru ada pada masa mereka.
Dalam menyelesaikan problem-problem itu, mereka pun mengikuti jalan para pendahulu mereka. Para pendahulu mereka tidak hanya mewariskan produk hukum, mereka juga mewariskan metode menyelesaikan problem kehidupan.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Sebelum sahabat Mu’adz bin Jabal diberangkatkan ke Yaman dalam satu misi dakwah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya,
“Apabila kamu menghadapi suatu kasus, bagaimana kamu akan menyelesaikannya?”
Mu’adz menjawab, “Aku cari di Kitabullah. Jika tidak kutemukan, aku cari di Sunnah Rasulullah. Jika tidak kutemukan juga, aku akan berijtihad dengan ra’yuku. Aku tidak akan asal-asalan dalam hal itu.”
Lantas Rasulullah menepuk dadanya seraya bersabda,
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah untuk perkara yang diridhai oleh Allah dan Rasulullah.”
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Seperti Mu’adz bin Jabal, demikianlah para sahabat menyelesaikan kasus-kasus yang mereka hadapi. Jika ada jawaban di dalam al-Quran, mereka merujuk kepada al-Quran. Jika tidak mereka temukan, mereka cari di as-Sunnah. Jika tetap tidak dijumpai nash yang secara spesifik menjelaskannya, mereka pun berijtihad.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Ketika Umar bin Khattab menyaksikan, dalam perang Yamamah, dalam satu hari saja ada 70 Qurra’, para ahli al-Quran yang terbunuh sebagai syuhada, ia berpikir untuk membukukan al-Quran menjadi satu mushhaf. Sesuatu yang tidak ada perintahnya di dalam al-Quran maupun as-Sunnah.
Namun, nyawa hukum syariat, yakni menjaga kemaslahatan dan mencegah kemudaratan menuntut hal itu dilakukan. Sebab jika tidak, hanya perlu waktu yang pendek untuk menghilangkan al-Quran dari muka bumi.
Maka Umar menyampaikan pendangannya ini kepada Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Semula Abu Bakar menolaknya, namun setelah berdiskusi lebih lanjut, ia dapat menerimanya. Dan proyek mulia penulisan al-Quran sehingga tersusun menjadi satu mushhaf pun dijalankan.
Tentu ini bukan satu-satunya kejadian dimana mereka berijtihad untuk menyelesaikannya.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Jalan para sahabat yang dipegang erat generasi sesudahnya meliputi produk dan metode untuk menghasilkan produk. Keduanya tidak ditinggalkan oleh generasi sesudahnya. Sebab mereka pasti khawatir jika tersesat dan dimasukkan oleh ke dalam neraka.
Jamaah shalat Idul Fithri yang dicintai Allah,
Apabila kita menginginkan hal yang sama dengan yang mereka inginkan: tidak tersesat dan tidak terancam siksa neraka Jahanam, maka yang mesti kita lakukan sekarang adalah memastikan:
Apakah akidah kita sama dengan akidah mereka?
Apakah akhlaq kita sama dengan akhlaq mereka?
Apakah ibadah kita sama dengan ibadah mereka?
Apakah muamalah kita sama dengan muamalah mereka?
Apakah metode kita menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan hidup sama dengan metode yang mereka pakai?
Jika jawaban untuk semua pertanyaan itu adalah, “sama” maka mari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat besar ini. Sebab kita boleh berharap akan dikumpulkan oleh Allah bersama mereka di dalam ridha-Nya.
Sebaliknya, jika jawaban untuk semua atau sebagian pertanyaan itu adalah, “belum” atau “belum pasti” atau “tidak”, maka mari kita berbenah!
Mari kita bersungguh-sungguh untuk memperbaiki klaim keislaman dan keimanan kita!
Bukankah, tak seorang pun dari kita yang mau dibiarkan oleh Allah tersesat dan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam?
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ
KHUTBAH KEDUA
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أْجْمَعِيْنَ
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah Shalat Idul Fithri yang berbahagia,
Mengikuti jejak langkah para sahabat dengan dibalas dengan ridha Allah dan surga-Nya.
Allah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 100,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Para as-Sabiqunal Awwalun (yang pertama-tama masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
Ridha Allah dan surga-Nya.
Bagi Muhajirin dan Anshar, juga siapa saja yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Jamaah yang berbahagia,
Siapa yang ingin tersesat dan masuk neraka Jahanam?
Tak seorang pun dari kita.
Siapa yang ingin ridho Allah dan Surga-Nya?
Setiap kita. Tak ada seorang pun yang menolaknya.
Hanya, apakah kita benar-benar menapaki jalannya?
Mari kita berusaha dengan sebaik-baiknya!
Akhirnya, mari kita berdoa kepada Allah,
Mari kita hadirkan hati kita memanjatkan permohonan kepada-Nya,
dengan begitu kiranya Allah berkenan mengabulkannya.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأمَوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
اَللَّهُمَّ أَسْعِدْ فِي هَذَا الْعِيْدِ قُلُوْبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ
اَللَّهُمَّ فِيْ هَذَا الْمَقَامِ نَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمُضْطَرِّ اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَ لَا هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَ لَا دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَ لَا مَظْلُوْمًا إِلَّا نَصَرْتَهُ وَ لَا فَقِيْرًا إِلَّا أَغْنَيْتَهُ وَ لَا ضَالًّا إِلَّا هَدَيْتَهُ وَ لَا غَائِبًا إِلاَّ رَدَدْتَهً إِلَى أهْلِهِ وِلاَ مَرِيْضًا فِيْنَا إِلاَّ شَفَيْتَهُ وَ لَا مَيِّتًا إِلَّا رَحِمْتَهُ وَ لَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا لَكَ فِيهَا رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا وَ يَسَّرْتَهَا
اَللَّهُمَّ احْقَن دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاحْفَظْ أَوْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ احْفَظْنَا فِي بَلَدِنَا هَذَا وَارْزُقْنَا اْلأَمْنَ وَاْلأَمَانَ وَالْاِسْتِقْرَارَ وَأَصْلٍحْ بَيْنَنَا وَوَحِّدْ صُفُوْفَنَا.
اَللَّهُمَّ احْمِ بِلاَدَنَا وَسَائِرَ بِلاَدِ اْلإِسْلاَمِ مِنَ اْلفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِماَ تُحِبَّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي غَزَّةَ
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي غَزَّةَ
اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي غَزَّةَ
اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا
اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا
اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْد
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Download PDF Materi Khutbah Idul Fitri
Berpikir, Berucap dan Berbuat seperti Para Sahabat di sini:
Semoga bermanfaat!