Gambar Materi Kultum Ramadhan Hikmah di Balik Musibah Dakwah.id

Materi Kultum Ramadhan: Hikmah di Balik Musibah

Terakhir diperbarui pada · 376 views

Tulisan yang berjudul Hikmah di Balik Musibah ini adalah seri ke-20 dari serial Materi Kultum Ramadhan 1446 H yang ditulis oleh Ustadz Yasir Abdull Barr.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ.

أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهُ خَيْرُ زَادِ الرَّاحِلِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya. Dengan izin dan kekuatan dari-Nya semata, kita masih mampu mengisi bulan Ramadhan ini sesuai tuntunan syariat-Nya.

Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan teruntuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beserta segenap keluarga dan sahabatnya. Semoga kelak di akhirat kita mendapatkan syafaatnya. Amiin.

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Pada dasarnya semua takdir yang Allah tetapkan adalah baik. Hanya saja, hawa nafsu kita sering kali menjadi juri atau hakim yang memvonis sebuah takdir adalah baik atau pun buruk.

Ketika takdir Allah itu sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita akan menganggap takdir tersebut baik.

Adapun ketika takdir Allah itu tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita akan menganggap takdir tersebut buruk. Padahal, pada hal-hal yang kita anggap takdir buruk tersebut sering kali terdapat banyak kebaikan dan keberkahan.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khuri dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

Tidaklah seorang muslim ditimpa kecapekan, penyakit, kekhawatiran atas peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, kesedihan atas peristiwa yang terjadi di masa lalu, gangguan orang lain, ataupun kegalauan yang sangat berat, bahkan duri yang menusuknya, kecuali dengan ujian tersebut Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.”

Tujuh Jenis Musibah

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Hadits shahih di atas menjelaskan bahwa berbagai “takdir buruk” yang dialami oleh seorang muslim yang shalih sejatinya memiliki berbagai kebaikan dan keberkahan.

Salah satunya adalah berbagai musibah tersebut dapat menggugurkan dosa-dosa seorang muslim, selama ia menerima musibah tersebut dengan sabar dan tidak berkeluh kesah.

Hadits shahih tersebut menyebutkan tujuh jenis musibah sebagai berikut:

Pertama: Nashab (Kecapekan)

Nashab berasal dari kata dasar nashiba – yanshabu – nashab, artinya adalah kecapekan, keletihan, dan kelelahan. Misalnya, seorang murid bercapek-capek dalam menuntut ilmu. Seorang guru bercapek-capek dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid.

Seorang ayah atau suami capek bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Seorang ibu atau istri capek dalam memasak, mencuci, mengurus anak, dan menyiapkan keperluan suaminya.

Kedua: Washab (Penyakit)

Washab berasal dari kata dasar yashiba – yashabu – washab. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan makna washab adalah penyakit biasa.

Adapun Imam An-Nawawi, Syarafuddin ath-Thibi, dan Ibnu Atsir al-Jazari menjelaskan makna washab adalah penyakit yang menahun. Yaitu penyakit yang berat, senantiasa melekat pada diri orang, dan tidak kunjung sembuh.

Khutbah Jumat Singkat: Meraih 5 Hikmah di Balik Sakit

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Ketiga: Hamm (Kekhawatiran)

Hamm berasal dari kata hamma – yahummu – hamm. Para pakar bahasa Arab, di antaranya Imam Majduddin al-Fairuz Abadi berpendapat makna hamm adalah kesedihan. Dengan demikian, hamm dan huzn itu merupakan sinonim, sama-sama bermakna kesedihan.

Sebagian ulama hadits dan pakar bahasa Arab membedakan antara makna hamm dan huzn. Menurut mereka, hamm adalah kesedihan yang timbul karena kekhawatiran saat memikirkan gangguan atau hal buruk yang mungkin akan terjadi pada masa yang akan datang.

Hamm dengan demikian adalah kesedihan dan kekhawatiran atas perkara yang sebenarnya belum terjadi. Adapun huzn adalah kesedihan yang timbul akibat peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.

Imam Syarafuddin ath-Thibi mengutip pernyataan Imam at-Turbaysti, bahwa hamm itu memiliki makna kesedihan berat yang melelehkan perasaan dan hati seseorang. Pendapat ini juga disetujui oleh pakar bahasa, Majduddin al-Fairuz Abadi.

Keempat: Huzn (Kesedihan)

Huzn berasal dari kata dasar hazina – yahzanu – huzn – hazan, maknanya adalah kesedihan. Imam Syarafuddin ath-Thibi, at-Turbasyti, dan sejumlah ulama lainnya berpendapat huzn adalah kesedihan yang timbul karena peristiwa yang telah terjadi di masa lalu.

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Kelima: Adzâ (Gangguan orang lain)

Adzâ berasal dari kata dasar adzâ – yudzî – îdzâ – adzâ. Maknanya adalah gangguan yang datang dari orang lain.

Gangguan tersebut bisa jadi terjadi dengan lisan, seperti caci makian dan ucapan kotor orang lain kepada diri seseorang. Gangguan tersebut bisa juga terjadi dengan tindakan, misalnya pukulan, tendangan, dan sejenisnya.

Keenam: Ghamm (Kegalauan)

Ghamm berasal dari kata dasar ghamma – yaghummu – ghamm. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan ghamm adalah perkara yang membuat hati atau dada seorang terasa sempit dan sesak.

Sebagian ulama dan pakar bahasa Arab menyatakan ghamm adalah penderitaan dan kesempitan yang dirasakan oleh dada akibat suatu musibah yang telah terjadi.

Ketujuh: Syaukah (Duri)

Syaukah adalah duri. Duri yang menusuk kaki atau anggota badan lainnya. Secara sempit, maknanya adalah duri.

Hanya saja, dalam pengertian yang lebih luas, ia juga meliputi hal-hal kecil lainnya yang bisa menimbulkan rasa sakit atau luka pada kaki atau anggota tubuh lainnya. Contohnya paku, pecahan kaca, jarum, dan sejenisnya.

Hikmah di Balik Musibah

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathu al-Bârî bi-Syarh Shahîh al-Bukhârî, Juz 10 hal. 124 berkata, “Dalam hadits-hadits ini terdapat berita gembira yang besar bagi setiap orang mukmin. Sebab, setiap manusia tidak mungkin terlepas dari kemungkinan mengalami rasa sakit, baik disebabkan oleh penyakit, kesedihan, kegalauan, dan lain sebagainya yang telah disebutkan di atas.

Sesungguhnya penyakit-penyakit dan berbagai kepedihan tersebut, baik bersifat fisik maupun psikis, dapat menghapuskan dosa-dosa orang yang mengalami ujian-ujian tersebut.”

Demikian materi kultum Ramadhan dengan judul “Hikmah di Balik Musibah”. Mari kita menyambut seluruh musibah dengan hati yang lapang, ridha, dan senantiasa mengharapkan pahala terbaik di sisi Allah Ta’ala. (Yasir Abdull Barr/dakwah.id)

Topik Terkait

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading