Daftar Isi
Tulisan yang berjudul “Kunci Meraih Manisnya Iman” ini adalah seri ke-16 dari serial Materi Kultum Ramadhan 1446 H yang ditulis oleh Ustadz Yasir Abdull Barr.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِلَهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ.
أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ فَإِنَّهُ خَيْرُ زَادِ الرَّاحِلِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya. Dengan izin dan kekuatan dari-Nya semata, kita masih mampu mengisi bulan Ramadhan ini sesuai tuntunan syariat-Nya.
Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan teruntuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta segenap keluarga dan sahabatnya. Semoga kelak di akhirat kita mendapatkan syafaatnya. Amin.
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Ibarat makanan dan minuman, keimanan itu memiliki cita rasa tersendiri. Cita rasa keimanan adalah lezat atau manis.
Imam Muslim dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا.
“Orang yang akan dapat merasakan lezatnya keimanan adalah seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai dînnya, dan ridha Muhammad sebagai rasulnya.” (HR. Muslim no. 34 dan at-Tirmidzi no. 2623)
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Imam an-Nawawi asy-Syafi’i (w. 676 H) dalam al-Minhâj bi-Syarh Shahîh al-Imâm Muslim ibni al-Hajjâj berkata,
“Yang dimaksud dengan ‘kelezatan iman’ atau ‘manisnya keimanan’ adalah merasakan lezatnya amal-amal ketaatan dan rela menanggung beban-beban (kesusahan-kesusahan) demi mendapatkan ridha Allah dan ridha Rasul-Nya, serta mendahulukan ridha Allah dan ridha rasul-Nya atas kenikmatan duniawi.”
Tiga Kunci Meraih Manisnya Iman
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Dalam hadits shahih di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa seorang manusia dapat merasakan kelezatan iman atau manisnya keimanan, apabila ia telah ridha pada tiga perkara.
Dalam bahasa Arab, kata kerja radhiya – yardhâ – ridhâ bisy-syai’ (ridha atau rela dengan sesuatu) itu memiliki makna qani’a bihi wa iktafâ bihi wa lam yathlub ma’ahu ghairahu, yaitu puas dengan sesuatu tersebut, mencukupkan diri dengannya, dan tidak mencari selainnya.
Lantas apakah tiga keridhaan yang menjadi kunci meraih manisnya iman itu?
Pertama: Ridha Allah Sebagai Rabbnya
Ridha pertama adalah ridha Allah sebagai Rabbnya.
Maknanya adalah hati seorang hamba merasa puas dan menerima sepenuh hati, dengan penuh lapang dada, fakta bahwa Allah adalah Rabb yang telah menciptakannya, memberinya rezeki, menghidupkannya, mematikannya, serta mengatur kehidupannya di dunia maupun akhirat kelak.
Materi Kultum 10: Orang yang Beriman Ibarat Nakhlah dan Nahlah
Konsekuensinya adalah ia hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Konsekuensinya adalah semua amal ibadahnya ditujukan untuk mencari ridha Allah dan surga-Nya semata, bukan untuk mencari pujian manusia, harta kekayaan, jabatan, dan kenikmatan duniawi lainnya.
Konsekuensi lainnya adalah berserah diri kepada Allah semata, berharap kepada-Nya, takut kepada-Nya, dan meminta pertolongan kepada-Nya semata.
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Kedua: Ridha Islam Sebagai Dinnya
Ridha kedua adalah ridha Islam sebagai dinnya.
Maknanya adalah hati seorang hamba merasa puas, lapang dada, dan menerima sepenuh hati agama Islam sebagai panduan hidupnya.
Ia meyakini kebenaran semua ajaran Islam yang terkandung dalam al-Quran, hadits shahih, dan ijmak (kesepakatan seluruh ulama mujtahidin). Ia menerima semua ajaran Islam dengan ikhlas, lapang dada, dan gembira, tanpa merasa keberatan sedikit pun.
Ia meyakini semua ajaran Islam membawa kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia dan menolak mara bahaya dari diri mereka.
Konsekuensinya adalah ia meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diterima di sisi Allah Ta’ala.
Konsekuensi lainnya adalah ia siap menjalankan seluruh ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupannya tanpa membantah, memprotes, ataupun merasa berat. Baik ajaran Islam dalam bidang akidah, ibadah mahdhah, muamalah, maupun akhlak.
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Ketiga: Ridha Muhammad Sebagai Nabinya
Ridha ketiga adalah ridha Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Qurasyi sebagai nabinya dan rasulnya.
Maknanya adalah hati seorang hamba merasa puas, lapang dada, dan menerima sepenuh hati Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Qurasyi sebagai nabi terakhir dan rasul terakhir, kepada seluruh bangsa jin dan manusia. Ia meyakini kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Artikel Akidah: 12 Buah Iman Pemberian Allah Kepada Hamba yang Jujur dalam Beriman
Konsekuensinya adalah
- ia membenarkan semua sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
- ia menjalankan semua perintahnya sesuai batas maksimal kemampuannya;
- ia menjauhi semua larangannya, baik yang haram maupun yang makruh;
- ia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; dan
- ia menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri teladan dalam seluruh aspek kehidupannya.
Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…
Imam an-Nawawi menjelaskan makna hadits di atas secara ringkas dengan menyatakan, “Makna hadits tersebut adalah ia hanya mencari ridha Allah semata, ia hanya menempuh jalan Islam semata, dan ia tidak beramal kecuali sesuai syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak diragukan lagi barang siapa memiliki keadaan seperti itu, niscaya kelezatan iman telah merasuk ke dalam hatinya dan ia bisa merasakan kelezatannya.” (An-Nawawi, al-Minhâj, Juz I hal. 193)
Inilah tiga keridhaan, yang apabila terkumpul dalam hati seorang hamba, niscaya ia akan merasakan lezatnya keimanan. Ia akan mampu menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan dan keringanan.
Ia akan mampu menjauhi larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan dan keringanan, meskipun bertolak belakang dengan hawa nafsunya sendiri.
Demikian materi kultum dengan judul “Kunci Meraih Manisnya Iman” yang dapat kami sampaikan. Semoga kita termasuk golongan yang berhasil mengamalkan tiga keridhaan ini, sehingga kita bisa merasakan manisnya keimanan. (Yasir Abdull Barr/dakwah.id)